top of page

Secercah Tentang Sumbawa: “Merajut Masa Lalu dengan Masa Kini”


Penduduk Sumbawa pada masa lalu berasal dari berbagai tempat. Datangnyapun berkelompok, kelompok, lalu masing-masing membuat tempat tinggal. Kemudian mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena terdesak oleh keadaan dan suasana, baik karena arus perpindahan penduduk yang baru maupun karena daya tarik alam untuk dijadikan tempat bercocok tanam dan pemeliharaan ternak.


Adapun kelompok-kelompok yang sedang berkembang biak lalu membuat wilayah sendiri-sendiri dan pemerintahannya sekaligus.

Di Sumbawa mengenal sebuah bidal yang berbunyi: “Tumpan aeng-aeng, me tutumpan nan tu baeng.”, artinya, orang yang menjumpainya dialah yang memilikinya.


Di dalam suatu penulisan, didapat keterangan bahwa pada waktu tentara Singosari yang dikirim ke Melayu terpukul mundur dan Kartanegara tewas, maka mereka lalu mengungsi ke Sumbawa dan memilih tempat tinggal yang diberi nama Singasari (sekarang Singa). Bekas tentara Jawa yang kembali dari Melayu tersebut mendirikan pula Negeri Tepal dan di sana dibuat batu peringatan (prasasti) bertuliskan huruf Jawa.


Perpindahan lain yaitu tatkala Raja Pajajaran dikalahkan oleh Raden Fatahillah. Di waktu itu, Prabu Munding datang ke Sumbawa dan mendarat di Tanjung Malang (Lunyuk) di Muara Brang Beh dan dibangunnya Negeri Malang Ruat. Selanjutnya menyusul Raden Trenggana lalu membuat pertahanan dengan memperbaiki Benteng Liang petang. Di sekitar tempat itu, dibangun negeri tempat tinggal yang senama dengan beliau yang disebut dengan Datu Tering. Nama ini kemudian berubah menjadi Batu Tering di Kecamatan Moyo Hulu.


Penduduk Sumbawa yang lebih tua tinggal di pegununungan Ropang, Lunyuk dan Batu Lanteh. Mereka terdesak oleh arus kedatangan penduduk baru.

Menurut Lalu Manca dalam bukunya “Sumbawa Pada Masa Lalu” (Suatu Tinjauan Sejarah) terbitan 1984 menyebutkan bahwa perkembangan penduduk yang berkelompok-kelompok itu, seterusnya berkembang biak dan menjelma menjadi kerajaan-kerajaan. Dapat ditemukan di bagian tengah dan selatan yaitu: Kerajaan Dewa Mas Kuning di Selesek (Ropang), Kerajaan Datu Naga di Petonang (Ropang), Kerajaan Ai Renung (Moyo Hulu), Kerajaan Dewa Awan Kuning di Sampar Semulan (Moyo Hulu), Kerajaan Prumpak di dekat Pernek juga di Moyo Hulu, Kerajaan Gunung Setia (Sumbawa) dan Kerajaan Gunung Galesa (Moyo Hilir). Di sebelah Timur terdapat Kerajaan Tangko (Empang), Kerajaan Kolong (Plampang), Kerajaan Ngali (Lape) dan Kerajaan Dongan (Lape). Di sebelah Barat terdapat Kerjaan Hutan (Utan), Kerajaan Seran (Sateluk), Kerajaan Taliwang, Kerajaan Jereweh, Kerjaan Selaparang (Lombok).


Sulit dicari referensi tentang silsilah raja-raja dari kerjaan tersebut di atas karena BUK kerajaan yang memuat lengkap tentang itu musnah terbakar ketika si jago merah melalap perkampungan Karang Bawah (Lapangan Pahlawan sekarang ini).


Ada riwayat yang menyebutkan tentang leluhur Dea Karang Bawa bernama Syamsuddin Alaydrus yang datang dari Kaufah bersama istrinya bernama Zubaidah dan anaknya bernama Kamaluddin. Ketika itu semua raja di Sumbawa telah memeluk agama Islam. Syamsuddin dan Keluarganya diberi tempat tinggal yang dikenal dengan nama Keban Geranta (Kompleks Sumbawa Mall sekarang). Kamaluddin lalu membuat sumir batir di belakang Istana Sultan. Keturunan Syamsuddin Alaydrus berkembang biak dan sebagian pindah ke Gunung Galesa (Olat Po Moyo Hilir) dan membuat Keratonnya di sini dengan bendera bersimbul macan. Di Olat Po sekarang ini ada sawah (uma) yang disebut Uma Tiang Bendera karena di tempat itu Bendera Macan ditempatkan. Sekitar tahun 1648, Bendera Macan resmi menjadi Bendera Kesultanan Sumbawa dan dikibarkan bersama Bendera Lipan sebagai bendera perang. Namun Bendera Macan dikibarkan lebih tinggi dari Bendera Lipan.




Kerajaan Gunung Galesa merupakan kerajaan Islam pertama di Sumbawa. Salah seorang Datu Gunung Galesa bernama Datu Mas Maling yang memiliki putri bernama Lala Mahia yang menikah dengan Said Muhammad Ali Alaydrus yang kelak membentuk imperium baru berupa kerajaan-kerajaan yang sebagian telah disebutkan di awal tadi.

Keturunan ke-10 dari Mas Maling, bernama Jamelela Mele Habira Dea Kowasa Untir Iwes yang memerintah sekitar tahun 1760. Apabila dikurangi dengan 250, maka diperkirakan Kerajaan Gunung Galesa dimulai sekitar 1510.


Kesultanan Sumbawa memang telah berakhir. Pemerintahan Daerah Swapraja tahun 1950/1959, dan selanjutnya tepat pada tanggal 22 Januari 1959 lahir Kabupaten Sumbawa ditandai dengan dilantiknya Sultan Sumbawa yang terakhir, yaitu Muhammad Kaharuddin III menjadi pejabat sementara Kepala Daerah Swatantra Sumbawa.


Banyaknya tantangan global yang menyangkut sosial dan kebudayaan buah dari globalisasi yang pada perkembangan kekinian membawa modernisasi yang merasuk dan merebak pada semua sandi kehidupan masyarakat. Nilai-nilai adat dan budaya yang dijunjung tinggi selama ini telah terkoyak-koyak oleh ulah tak berbudaya masyarakat kita.


Semangat menghidupkan kembali Kesultanan Sumbawa sebagai benteng budaya mulai disuarakan dan semakin kuat. Identitas baru perlu dibangun, buah dari diskusi panjang revitalisasi. Maka pada tanggal 5 April 2011 lalu, digelar prosesi penobatan Sultan Sumbawa ke- 17, Sultan Muhammad Kaharuddin IV. Penobatan ini dilakuakan pada Putra Mahkota Sultan, yakni H. Daeng MA Kaharuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Daeng Ewan. Sebelum prosesi penobatan, telah ada suatu proses panjang yang dilakukan oleh masyarakat Sumbawa dan dipelopori oleh Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) dalam rangka membangun identitas baru ini.


Penobatan sultan ini adalah yang pertama semenjak 80 tahun lalu. Ini adalah penobatan pertama sejak kesultanan Sumbawa menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan RI. Harusnya sultan naik takhta pada 1975 silam, sesaat setelah ayahnya Sultan Muhammad Kaharuddin III mangkat.

Sumber: Madya Yacub Zain, S.H. M.M., M.Pd.

Ketua Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Kecamatan Moyo Hilir


Comments


Post: Blog2_Post
bottom of page